| ADA APA DENGAN CINTA suatu pagi menjelang siang. Dua orang anak berusia 7 tahun saling berhadapan di ujung sebuah jalan. Sementara di ujung jalan yang berlainan berdiri angkuh sebuah tank Israel dengan beberapa tentaranya menyandang M-16 seakan menantang kedua bocah tersebut. Tidak ada ekspresi wajah ketakutan dari kedua anak tersebut. Kemudian salah seorang dari kedua bocah tersebut berkata kepada temannya, 'Biarlah aku yang menghadapi tank itu. Engkau masih dibutuhkan oleh keluargamu.' 'Tidak. Biar aku saja yang menghadapinya, engkau kembalilah mencari bantuan' jawab temannya lagi. Kedua anak itupun masing-masing mengeluarkan argumennya untuk menjadikan dirinya tameng bagi temannya yang lain. Akhirnya mereka berpelukan dan saling mengatakan,'Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah, dikarenakankecintaan engkau pada agama ini. Mari kita songsong berdua mereka (tank dan tentara Israel).' Bogor Barat, di awal Maret 2002, sejumlah mahasiswa dan mahasiswi melakukan pesta putaw. Wajah-wajah lusuh dan bingung mereka menandakan kondisi mereka dalam keadaan tak sadarkan. Kata-kata cinta yang mereka katakan kepada pasangannya, keluar dengan tanpa perasaan yang keluar dari jiwa. Di sebuah Sekolah Menengah Tingkat Atas, terpampang pengumuman sebuah acara kasih sayang. Sebuah acara hura-hura ‘memperingati’ bahwa hari tersebut adalah hari kasih sayang muda-mudi. Medio Februari, beberapa anak muda berkumpul di sebuah masjid di bilangan Jakarta Selatan. Mereka sebelumnya tidak mengenal satu sama lain. Satu visi dalam aktifitasnya yang membuat mereka duduk berhadapan dan mengucapkan “ya akhi, sungguh saya mencintai antum karena Allah. mari kita tebarkan da'wah Islam ini melalui apa yang bisa kita lakukan melalui dunia maya”. ADA APA DENGAN CINTA Cinta. Kata itu berjuta makna. Tergantung siapa yang berhadapan dengannya, begitu pula definisi yang dibuatnya. Siapa saja berhak menggunakannya sesuai dengan definisi yang dipahaminya tentang kata cinta tersebut. Banyak orang mencoba mendefinisikan arti kata cinta. Sebanyak itu pulalah ketidakpuasan melanda mereka yang mencoba menerjemahkannya. Sebuah kata yang dapat membuat hati tergetar kala mendengarnya. Sebuah kata yang membuat banyak manusia melepaskan pilihan-pilihan hidup. Sebuah kata yang dapat mengabulkan segala permintaan dari yang dicintainya. Tersenyum kala mengangankannya. Sebuah kata yang membuat rela persepsi dari seorang Rabiah ditempatkan di neraka asalkan yang dicintainya (Allah) ridho atas hal itu. Tapi sedikit manusia yang dapat memahami hakikat cinta. DEFINISI CINTA Kebanyakan orang hanya memberikan penjelasan dalam hal sebab-musabab, konsekuensi, tanda-tanda, penguat penguat dan buah dari cinta serta hukum- hukumnya. Maka batasan dan gambaran cinta yang mereka berikan berputar pada enam hal di atas walaupun masing-masing berbeda dalam pendefinisiannya, tergantung pada pengetahuan, kedudukan, keadaan dan penguasaannya terhadap masalah ini (Madarijus-Salikin 3/11). Rupanya tepat seperti ungkapan Ibnu Qoyyim Al jauziyah tentang cinta : 'Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri. Dari uraian di atas, cinta dapat didefinisikan sebagai sebuah gejolak jiwa di mana hati mempunyai kecenderungan yang kuat terhadap apa yang dicintainya sehingga membuat keinginan untuk tetap mengangankan, menyebut namanya, rela berkorban atasnya dan menerima dengan segenap hati apa adanya dari yang dicintainya dan kecintaannya serasa kurang sekalipun telah ia tumpahkan dengan kata-kata dengan perbuatan. Sesungguhnya Allah telah memberitahukan terhadap manusia tentang sebuah arti cinta. Allah SWT berfirman dalam surat Ali 'Imron ayat 14 : 'Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)'. (Qs. 3:14) Dari ayat di atas jelaslah bahwa manusia mempunyai naluri fitrah cinta terhadap banyak hal. Dan semua lingkup kecintaan itu tidak bergeser dari apa yang namanya kesenangan dunia. Padahal sebagai seorang muslim, telah disampaikan kepada kita bahwa hendaknya kita menjadikan akhirat sebagi tujuan kita dan dunia sebagai ‘sampingan’. Intinya, Bagaimana kita menjadikan dunia sebagai jembatan kita menuju akhirat.'Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan'. (Qs. 28:77) JEBAKAN CINTA SEMU Dari sekian banyak kecintaan terhadap sesuatu, terlupakan akan kecintaan yang hakiki. Dengan dalih hal yang fitrah, jebakan-jebakan cinta yang nota bene berawal dari hawa nafsu, cinta diumbar kepada kecintaan semu terhadap sesuatu bagai anak panah dilepas dari busurnya. Sebagai perumpamaan, dalam masyarakat kita saat ini, sering kali kita temui pengertian cinta dengan suatu perasaan suka terhadap lawan jenis. Begitu vulgarnya masyarakat ini mengekspresikan rasa cinta ini. Cinta kepada harta yang dimiliki sehingga merasa hanya dia yang berhak dan mulia atas hartanya. Cinta kepada manusia yang berlebihan yang mengesampingkan rasio dan enyalahkan takdir jika terjadi musibah terhadap yang dicintainya. Cinta kepada kedudukan dan pangkat yang mengakibatkan ketidakrelaan apabila itu terlepas dari tangannya. Dan kita mengenal dengan istilah power syndrome. Semua itu pada intinya kecintaan-kecintaan yang seharusnya kecintaan yang fitrah, tetapi karena memperturutkan hawa nafsu menjadi berlebihan dan cenderung menjadi terjebak kedalam cinta yang semu. Padahal hawa nafsu itu ibarat seorang bayi yang menyusu, apabila ia disapih maka ia akan berhenti menyusu dan sebaliknya. CINTA HAKIKI Carilah cinta yang sejati yang ada hanyalah pada-Nya Carilah cinta yang hakiki yang hanya pada-Nya yang Esa Carilah cinta yang abadi yang ada hanyalah pada-Nya Carilah kasih yang kekal selamanya yang ada hanyalah pada Tuhanmu.... Tanpa disadari kita telah lama terbuai dengan cinta nafsu. Seringkali kita menyangka bahwa cinta manusia itu yang sejati. Padahal tanpa kita sadari kecintaan kita terhadap cinta yang semu seringkali mengecewakan. Hal ini karena kecintaan yang kita berikan dan sesuatu yang kita cintaipun masih mempunyai kepentingan-kepentingan yang apabila kepentingan tersebut tidak tercapai maka kekecewaanlah yang lahir. Kita telah terlena -jika tidak ingin dikatakan terlupakan- kepada siapa hendaknya kecintaan yang hakiki itu kita berikan dan kita tempatkan. Padahal, sebagai seorang muslim yang telah berjanji bahwasanya sholatnya, ibadah khususnya, hidup dan kehidupannya bahkan kematiannya hanya untuk Allah SWT semata adalah suatu keniscayaan menempatkan kecintaan yang hakiki hanya kepada Allah SWT. Bisa jadi kita mempunyai kepentingan juga dalam mencintai Allah dan itu berimplikasi terhadap tingkat kecintaan kita kepada-Nya. Tapi yakinlah, bahwa Allah SWT tidak mempunyai kepentingan terhadap makhluk-Nya. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya kepada setiap makhluk-Nya. Tetapi, tidak jarang kita menemui begitu banyak hambatan dan godaan dalam menelusuri dan mencari cinta yang hakiki. Hal ini dikarenakan begitu banyak anasir kepentingan yang ada di dalam diri kita. Untuk itulah Allah SWT memberikan pahala yang besar bagi siapa saja yang memberikan cintanya hanya kepada Allah. Sementara kecintaannya kepada sesuatu yang lain dijadikan sebagai sarana peningkat kecintaan kepada-Nya. Karena bagaimanapun kecintaan-kecintaan yang manusiawi pasti masih melekat dalam diri manusia, seperti : ·Kasih-sayang, seperti kasih-sayangnya orang tua kepada anaknya dan sayangnya orang kepada fakir-miskin atau orang sakit. ·Cinta yang bermakna segan dan hormat, namun tidak termasuk dalam jenis ibadah, seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada pengajarnya atau syaikhnya, dan yang semisalnya. ·Kecintaan (kesenangan) manusia kepada kebutuhan sehari-hari yang akan membahayakan dirinya kalau tidak dipenuhi, seperti kesenangannya kepada makanan, minuman, nikah, pakaian, persaudaraan serta persahabatan dan yang semisalnya. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata: 'Didalam hati manusia ada rasa cinta terhadap sesuatu yang ia sembah dan ia ibadahi ,ini merupakan tonggak untuk tegak dan kokohnya hati seseorang serta baiknya jiwa mereka. Sebagaimana pula mereka juga memiliki rasa cinta terhadap apa yang ia makan, minum, menikah dan lain-lain yang dengan semua ini kehidupan menjadi baik dan lengkap.Dan kebutuhan manusia kepada penuhanan lebih besar daripada kebutuhan akan makan, karena jika manusia tidak makan maka hanya akan merusak jasmaninya, tetapi jika tidak mentuhankan sesuatu maka akan merusak jiwa/ruhnya. (Jami' Ar-Rasail Ibnu Taymiyah 2/230) Sekarang kembali kepada diri kita masing-masing, sudahkan kita menempatkan kecintaan kita kepada Allah SWT melebihi kecintaan kita yang lain. Jangan sampai Allah SWT mengazab kita lantaran kita mencintai selain Nya sebagaimana mencintai Allah. Apatah lagi kita mencintai hal tersebut dengan menyisihkan cinta kita kepada Allah. “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)”. (Qs. Al-Baqarah : 165) Wallohu a'alam. |